Masalah penyalahgunaan narkoba kian merebak, generasi mudah semakin banyak terjerumus dalam limbah hitam penyalahgunaan narkoba. Hal ini mengancam masa depan dan cita-cita dari generasi penerus bangsa ini.

Untuk menghindari penyalahgunaan narkoba seseorang harus memiliki ketahanan diri yang kuat dari pengaruh lingkungan untuk menggunakan narkoba.

Nah bagaimana caranya membentuk ketahanan diri yang kuat, berikut ulasan dari pakar psikologi yang disadur dari okezone.com

A Kasandara Putranto, Psikolog dari Ikatan Pskiologi Klinis dan Asosiasi Psikologi Forensik memgatakan keluarga menjadi titik utama untuk mempersiapkan setiap individu sebelum akhirnya menjadi bagian dari anggota masyarakat dan berinteraksi dengan lingkungan.

“Setiap individu merupakan produk dari keluarga. Ibarat keong, cangkang adalah rumah yang akan selalu dibawa-bawa, sementara manusia tidak. Kalau keluar dari rumah tidak dalam kondisi siap dan tangguh untuk menghadapi dunia, itu akan menjadi masalah,” ujar Kasandra.

Menurut Kasandra, persiapan yang harus dilakukan oleh orangtua bukan sekadar mempersiapkan fisik tapi juga intelektual, emosi, sosial, dan yang paling penting spritual. “Kemudian masuk ke sekolah akan memperkuat semua itu. Problemnya, sering kali sekolah hanya berfokus pada akademis dan melupakan aspek sosial, emosi, maupun spritual. Apalagi jika dari rumah sudah bermasalah, sekolah tidak akan mampu mengatasinya,” tuturnya.

Masuk ke dunia sosial, lanjutnya, individu akan bertemu dengan teman, masyarakat, dan media. Jika dari awal memang tidak tangguh, dengan sendirinya anak tersebut bisa terbawa mengikuti pergaulan yang negatif.

“Mereka yang akhirnya terjerumus narkoba itu mereka yang tidak punya konsep diri, figur yang bingung. Masa remaja adalah waktu untuk membentuk konsep diri dan identitas. Orangtua tidak mau disalahkan sementara si anak dalam kondisi tidak matang dan emosi tidak stabil,” papar Kasandra.

Kasandra menyebut, masalah adiksi adalah masalah sosial yang berkombinasi dengan masalah individual. Tidak hanya itu, situasi dan kondisi hukum di Indonesia juga menjadi salah satu alasan permasalahan narkoba tetap terjadi di Indonesia. “Sehingga mau menyalahkan anak-anak sepenuhnya tidak bisa, karena akses untuk mendapatkan narkoba saat ini pun mudah. Dalam jarak 1 kilometer (km) ada yang jual,” imbuhnya.

Meski demikian, lanjutnya, kita harus jeli melihat apakah anak tersebut menggunakan narkoba secara sukarela atau terpaksa. “Ada yang memang sukarela menggunakan narkoba, tapi ada pula yang dipaksa atau dicekoki narkoba tanpa sepengetahuan dia. Narkoba itu bersifat adiktif, jadi sekali masuk ke tubuh akan menimbulkan ketagihan, tutupnya.

Share via
Copy link