Suasana mendumg nan kelabu, tiada secercah mentari hangat, menyejukkan pemandangan. Tiada hujan mengguyur, hanya langit yang pekat penuh gumpalan awan berwarna abu-abu diatas sana.  Disetapak jalanan kompleks-ku nampak lenggang. Namun disudut jalan buntu didalam sebuah warung, berjejer nyata belasan botol hijau yang terpampang disana. Penuh akan pemuda-pemuda remaja berkumpul, mataku perih. Hatiku menjerit.

Suatu pertanyaan yang hadir dalam benakku, kala melihat itu.

“Bagaimana bisa negara akan maju, apabila generasi sekarang saja telah diambang kehancuran?!”  gumamku penuh penekanan.

Ingin sekali rasanya aku menasihati mereka untuk mengonsumsi barang-barang haram terlarang itu. Tapi apa daya aku selalu pulang dalam keadaan penuh luka. Mereka menolak keras nasihatku, lalu mengeroyokku hingga aku berteriak ‘ampun…’ meminta kepada mereka agar tidak memukulku lagi.

Tapi kali ini, degan kebulatan tekatku, di pagi yang mendung, aku diam-diam mengendap-endap untuk bersembunyidibalik beton yang rapuh, yang takterlalu jauh dari warung tersebut, memperhatikan aktivitas para pedagang ilegal.

Nampak disana, dua pemuda jakung yang terlihatv lebih ta dariku, membawa sebungkus kecil entah apa itu, mereka berjaket hitam dan bermasker seakan-akan menutupi identitasnya. Sedang melakukan transaksi jual beli kepada lima orang remaja belia yang kuketehui adalah anak-anak tetangga  belakang  kompleks.

Kusiapkan ponsel membuka kamera, merekam percakapan mereka.

“Ini ganja, sabu-sabu dan lainnya ada sekitar 8,7 gram perjenisnya, ukurannya memang kecil tapi efeknya 97% meyakinkan. Sebarkan pada mereka yang ,mencari barang ini. Harga? Terserah kalian yang penting ¼ keuntungannya milik kami, mengerti?”

Liam remaja belia itu mengangguk patuh, meresponnya.

“Dan ingat jangan sampai identitas kami bocor dan bisnis ini terancam hingga ke pengadilan. Kalau sampai itu terjadi keluarga kalian akan menjadi tahanannya, paham?!”

Lima remaja itu kembali mengangguk, diam membisu tanpa perlawanan. Rekaman dapat. Informasi sebagai bukti telahku dapatkan.

“semoga saja dengan rekaman dan video ini, berhasil hingga ke BNN. Mereka memang bodoh, cinta narkoba buat generasi ambruk saja… ckckck gue harus cepet laporin mereka, untung sekaran ada web khusus biar cepet lapor ke BNN,” gumamku lirih, senyumku mengembang sempurna segera kubuka webnya dan melaporkan aksi mereka.

Tepat sore ini, suasana tak semendung tadi pagi. Semburat jingga nampak mempesona, selepas sholat ashar dan membantu bunda, kunikmati sore dengan menonton acara TV yang menayangkan berita terkini. Aku tersenyum tipis melihatnya, bukan karena apa aku tersenyum menonton berite terkini itu, namun akhirnya BNN cepat memproses laporanku tadi pagi dan berhasil menangkap pedagang ilegal tadi. Satu dari seribu masalah pengedaran narkoba teratasi secara tuntas. Dua pemuda tadi tertangkap lengkap dengan seluruh anak buahnya.

“akhirnya misi ini terselesaikan… ribuan misi lain menungguku.”

-TAMAT-

Karya : Dzihni Hasna A. Kelas X MIA 3 SMA Bina Insan Mandiri

 

Share via
Copy link