Dilansir dari weonline.com, Panic buying adalah sebuah situasi dimana banyak orang tiba-tiba membeli makanan, bahan bakar, dan lain sebagainya sebanyak mungkin karena mereka khawatir akan sesuatu yang buruk yang mungkin terjadi.

Serta jenis perilaku yang ditandai dengan peningkatan cepat dalam volume pembelian, biasanya menyebabkan harga suatu barang atau keamanan meningkat. Panic buying dapat terjadi ketika konsumen membeli sejumlah besar produk untuk mengantisipasi, atau setelah bencana atau untuk mengantisipasi kenaikan atau kekurangan harga yang besar. Panic buying sering dikaitkan dengan keserakahan dapat dikontraskan dengan panic selling yang dikaitkan dengan ketakutan.

Baru-baru ini fenomena panic buying kembali terjadi di Indonesia, adalah brand susu steric yang menjadi sasaran masyarakat di masa pandemic covid-19. Apakah kamu salah satu pembelinya sobat cegah?

Ternyata, di balik aksi borong tersebut ada alasannya lho sabat cegah. Melansir Psychology Today, berikut beberapa alasan psikologi di balik panic buying saat pandemi Covid-19:

1. Pengambilan Keputusan Emosional

Saat mengambil suatu keputusan, ada dua cara berpikir yang biasa digunakan. Yakni keputusan logis dan emosional. Keduanya berbeda sistem berpikirnya. Otak logis bisa menghitung dan menimbang dengan cermat sebelum mengambil keputusan. Sedangkan otak emosional bersifat intuitif, cepat, dan tanpa didasari pertimbangan matang. Pikiran logis memberitahu pemiliknya untuk tidak perlu beli terlalu banyak barang. Tapi, otak emosional pertimbangannya lebih baik aman punya dulu daripada menyesal kemudian. Pikiran emosional sangat selaras dengan citra visual. Ketika bertebaran foto atau video berita orang jamak membeli atau memborong sesuatu, tanpa sadar pikiran emosional mengambil alih suatu keputusan. Disanalah dampak ikut-ikutan terjadi.

2. Mengalami Kecemasan Antisipatif

Alasan panic buying lainnya yakni kecemasan antisipatif atau ketakutan yang sebenarnya belum tentu kejadian. Misalkan, takut kehabisan susu atau obat tertentu, padahal produsen masih terus membuatnya. Ketakutan antisipatif menghadapi pandemi setipe dengan rasa cemas ketika akan menerima hasil laboratorium selepas menjalani tes kesehatan.

3. Mentalitas Kelompok

Mentalitas kelompok adalah penyebab lain orang jadi ikut-ikutan panic buying. Sebagai makhluk sosial, manusia secara alami menafsirkan situasi berbahaya berdasarkan reaksi orang sekitarnya. Ketika naluri komunal muncul, orang-orang berhenti mempertimbangkan sesuatu secara logis dan mulai mengambil keputusan seperti orang lain. Maka tak heran, ketika semua orang panik membeli sesuatu, orang lain juga jadi ikut-ikutan.

Hmmm .. sobat cegah, dalam situasi dan kondisi saat ini coba sejenak tarik napas panjang dan keluarkan perlahan, setelah tenang, lalu putuskan apa yang ingin dilakukan. Semoga kita semua mampu menghadapi situasi ini yah sobat cegah 🙂

Share via
Copy link