Pemburu Senja – Novel Tentang Bahaya Narkoba Part 1

by | Jan 5, 2021

 

“Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.”

– Kerendahan Hati karya Taufiq Ismail

 

 

                                                                                           ROCKSTAR

“ When you are with me, I’m free, I’m careless, I believe. Above all the others we’ll fly, this bring tears to my eyes, my sacrifice.”

Lagu My Sacrifice dari band Creed itu menggema dari sebuah studio band berukuran 4×4 meter di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Ruangan itu pengap karena studio band biasanya memang dirancang untuk kedap suara, jadi tidak ada sama sekali celah yang bisa dimasuki udara untuk menghantarkan suara keluar studio. Deretan amplifier mengambil 30% dari total luas ruangan tersebut. Tepat didepan amplifier sang gitaris, Miro sedang berdiri membelakangi amplifier, mengatur posisi dengan seksama karena jika koordinat posisinya bergeser, maka akan terjadi feedback dan timbul suara “nguiiiiiiiing” yang memekakkan telinga. Tangan kanannya sibuk memetik Gitar dengan teknik palm mute¸ sedangkan jari kirinya menari, menjelajah 6 senar dengan Open D tuning diatas 24 fret. Kakinya siap siaga jika sampai pada waktunya, ia akan menginjak efek pedal Boss Metal Zone untuk mengganti efek suara distorsi dengan efek suara clean yang terdengar seperti suara gitar akustik. Nomo, sang Bassis yang memang terlahir dengan muka datar tanpa ekspresi dan sifat pendiam, sekilas mirip dengan Brown karakter “Line” sedang memainkan bass. Secepat apapun beat lagunya, ia akan berdiri mematung dan memainkan bassnya dengan tatapan kosong ke depan, seakan ia habis dihipnotis oleh Romi Rafael dan bertanya dalam hati, what the hell I’m doing here? Tubuhnya yang gempal nampak harmonis dengan bass lima senar yang dipeluknya, perutnya yang buncit seakan memang ditakdirkan menjadi pengganjal bass yang kokoh agar bassnya tidak merosot.

Nomo memainkan bassnya sambil bersandar di dinding studio yang banyak terpasang poster musisi terkenal seperti Jimi Hendrix and The Experience, Led Zepelin, Peter Pan hingga Orkes Pancaran Sinar Petromaks. Selain poster, di dinding studio ada juga sebuah kaca berukuran 1 x 1 meter yang memungkinkan operator studio memantau para penyewa alat band, barangkali ada salah satu dari penyewa yang sembrono dan tidak senonoh dalam menyewa alat-alat band. Diseberang Nomo, ada Dana yang sedang sibuk menabuh drum. Ia menggebuk snare drum sewaan itu dengan sekuat tenaga, persis ketika ia menggebuk bedug waktu malam takbiran. Setiap kali latihan band pasti ada stik drumnya yang patah. Drummer berbakat dengan kuli bangunan paruh waktu kadang sulit dibedakan. Dana adalah penabuh drum yang berbakat. Sejak SMP ia banyak mengikuti lomba band se kabupaten Lamongan, dan ia hampir selalu mendapatkan penghargaan sebagai Drummer terbaik di lomba band tersebut. Ketika ia sedang memainkan drum, sekilas dari jauh terlihat seperti drummer Nirvana : Dave Grohl, namun jika dilihat lebih dekat, ia lebih mirip Hariono, gelandang bertahan klub Persib Bandung. Rambut gondrongnya yang agak lepek karena keringat, berkibar-kibar senada dengan lengannya yang menabuh snare dan cymbal dengan energik. Ia memakai kaos tak berlengan yang bagian sampingnya sengaja dirobek sampai bawah, seperti yang sering dipakai oleh Travis Barker, penabuh Drum Blink 182.

Persis didepan drum berdiri sang vokalis, Hans. Pria kurus tinggi itu telah menjadikan musik sebagai bagian yang penting dalam hidupnya. Pada awal karirnya sebagai musisi, ia adalah seorang drummer dan ia pun adalah murid didikan Dana karena mereka dulu teman satu SMA. Sebagai drummer, ia terbilang drummer berbakat karena berhasil menyabet beberapa juara lomba band bersama Miro ketika masih di kampus dulu. Tetapi meskipun ia drummer berbakat, menyanyi adalah hobi utamanya. Hampir di setiap saat dia selalu bernyanyi, seakan-akan momen-momen hidupnya adalah rangkaian soundtrack. Sehabis bangun tidur ia bernyanyi “Bangun tidur kuterus mandi….”, saat mandi ia bernyanyi “Waktu aku mandi, sambil nyanyi-nyanyi…”, saat ia bercermin sambil menyisir rambutnya, ia bernyanyi “Rasa deg-degan di hatiku, saat kutatap paras wajahku di cermin”, saat ia lapar dan ngidam bakso, ia bernyanyi “Abang tukang bakso mari-mari sini aku mau beli.” saat ia melihat tawuran anak-anak SMA, ia bernyanyi “Perdamaian-perdamaian, perdamaian-perdamaian, banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai”.

Ya begitulah Hans, segala perasaannya dari mulai senang, sedih, kecewa, rindu bahkan sunyi semua memiliki nyanyiannya masing-masing. Sampai suatu hari ia mendengar lagu Another Day in Paradise dari Phil Collins. Ia tersentuh dan hanyut dalam lagu itu ketika pertama kali mendengarnya. Sejak saat itu ia terinspirasi untuk berubah haluan, dari seorang drummer menjadi seorang vokalis, seperti Phil Collins. Hans juga amat sangat ter-influence dari tiga orang vokalis terkenal yaitu Chris Martin, Armand Maulana dan Ian Kasela. Untuk masalah segi suara ia mengambil Chris Martin sebagai referensinya. Untuk masalah segi aksi panggung, Armand Maulana adalah panutannya. Sedangkan untuk masalah fashion, ia memilih Ian Kasela sebagai rujukannya.

Miro, Nomo, Dana dan Hans menamai band mereka “The Humans”. Entah mengapa nama itu dipilih mereka, mungkin karena mereka merasa bahwa mereka hanyalah manusia? atau menunjukkan bahwa mereka adalah kumpulan manusia yang bermain musik? Entahlah, hanya mereka yang tahu. Masing-masing personel memiliki selera musik yang berbeda-beda. Miro adalah penikmat musik-musik Rock tahun 80-90an, dari mulai Metallica, Megadeth, Bon Jovi sampai Soundgarden. Selain itu Miro juga memiliki minat tersendiri dengan musik Blues, karena ayahnya adalah penggemar berat Rolling Stones, Walter Trout dan Jimi Hendrix. Nomo adalah penikmat musik-musik Rock lawas seperti Black Sabbath, Led Zeppelin dan Queen. Dana amat menggemari musik-musik Punk dari mulai The Ramones, Rancid, Blink 182 hingga Angel and Airwaves. Sedangkan Hans adalah penggemar berat band-band British seperti The Police, Radiohead, Oasis, Coldplay juga Gigi dan Radja. Selain itu Hans juga keranjingan musik dangdut koplo dari orkes dangdut seperti Monata, Palapa dan Sera, karena mantan pacarnya kebetulan adalah penyanyi dangdut di Lamongan. Walaupun berbeda influences, namun untuk urusan bermusik, The Humans sepakat bahwa mereka akan mementingkan kebutuhan dan keberlangsungan band ketimbang ego masing-masing personel, mereka banyak mengambil referensi dari band-band Post Grunge yang easy listening seperti Foo Fighters, Creed, Nickelback sambil sesekali memainkan lagu-lagu Boys Like Girls dan Oasis.

**

Setelah sampai di penghujung lagu, operator studio memberi isyarat dari balik kaca dengan menyilangkan kedua tangannya. Ia memberi tanda bahwa waktu penyewaan studio hampir habis. Dan seperti anak band lainnya, ketika waktu hampir habis, mereka lantas memanjang-manjangkan lagu terakhir, me-medley-nya dengan lagu-lagu lainnya. Operator studio sudah mengetuk-ngetuk kaca, waktu sewa studio sudah habis. Tapi, Hans masih saja terus berimprovisasi vocal. Ia berjingkrak-jingkrak sambil menunggu momen yang tepat di bagian lagu untuk menampilkan aksi favoritnya, melempar microphone ke atas, meraihnya lagi dan langsung kembali bernyanyi tanpa kehilangan tempo sedetikpun, momen yang sungguh epic. Dana masih dengan energik menabuh drum dengan sekuat tenaga, kepalanya mengangguk-angguk mengikuti tempo lagu yang semakin cepat, rambut lepeknya semakin berkibar-kibar, memuncratkan keringat yang membasahi snare dan cymbal drumnya, apabila gambar momen itu diambil dengan slow motion akan menimbulkan adegan yang dramatis. Miro tak mau kalah, untuk mengulur waktu ia bereksperimen dengar suara gitarnya, ia menginjak pedal wah setiap memetik senar di salah satu nada, menghasilkan suara unik berbunyi “Waow” di setiap nada yang dipetiknya, mirip dengan suara gitar Tom Morello -gitaris Audioslave- saat memainkan solo pada lagu “Be yourself”. Sedangkan Nomo, masih datar disaat semua personil band semakin terbakar emosinya, ia tetap tenang. Sambil bertanya dalam hati “kapan semua kebodohan ini akan berakhir?”

**

Sang Operator studio sampai terpaksa sengaja menurunkan sakelar listrik untuk menghentikan empat orang yang mereka namai The Humans –yang bahkan mereka tidak tahu kenapa mereka menamai demikian- yang dengan sengaja mengulur-ngulur waktu injury time saat operator telah memberikan kode bahwa waktu sewa telah habis. Jika diibaratkan permainan sepak bola, mereka sudah terkena kartu kuning ke dua dan harus keluar dari lapangan.

Selesai membayar sewa studio sambil diiringi tatapan sinis operator studio, mereka langsung menuju ke sebuah kamar kos kecil di bilangan Bukit Duri Jakarta Selatan. Penghuni kos itu adalah Hans, sang vokalis. Dana dan Nomo memilih menyewa kos bersama-sama, kos mereka terletak persis di samping kos Hans. Banyak sekali barang berjejalan di kamar kos Hans, dari mulai Satu set drum elektrik, gitar dan bass terletak disudut kiri kamar, sedangkan disudut kanan kamar ada sebuah meja dari kayu yang diatasnya ada sebuah mixer audio, soundcard, laptop dan sepasang speaker merk JBL, sebuah studio rekaman kecil-kecilan. Semua alat band yang ada merupakan hasil patungan mereka, mengamen kesana kemari. Ada juga lemari jamuran, Kasur yang sudah lepek, sprai yang sudah berwarna kecoklat-coklatan, bantal yang terlalu sering ditekuk, pakaian yang menggunung di atas kasur lepek, entah sudah dicuci atau belum, tapi jika dicium dari aromanya sepertinya pakaian itu belum dicuci, Galon yang sudah kosong, asbak dan puntung rokok yang berserakan, plastik-plastik bekas berbelanja di warung, dan kertas bungkus nasi yang lupa dibuang. Masuk ke kamar Hans adalah uji nyali dalam bentuk lain dan harus siap pingsan karena terlalu lama menahan nafas.

Miro dan Hans adalah teman satu kampus, mereka berdua kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Sejarah di salah satu universitas Negeri di Jakarta. Mereka akhirnya masuk ke jurusan itu karena memang hanya jurusan itu yang bisa digapai oleh mereka setelah mereka berkali-kali mengikuti test masuk perguruan tinggi Negeri. Mau masuk ke kampus kesenian, orang tua tidak mampu bayar SPP. Mau masuk jurusan kedokteran, takut mal praktek. Mau masuk jurusan sastra, tidak bisa membedakan majas paradoks dan majas hiperbola. Mau masuk jurusan pertanian, tidak tahu arti nama tanaman Oryza sativa. Mau masuk jurusan Komunikasi, ngomong di depan umum mereka gagap. Mau masuk jurusan tata boga, memasak telur ceplok saja sama cangkang-cangkangnya. Mau masuk jurusan teknik, nilai fisika mereka merah. Mau masuk jurusan arsitektur, cuma bisa gambar gunung, matahari dan sawah. Mau masuk jurusan perminyakan, takut disuruh ngebor asteroid seperti di film Armageddon.

Serupa dengan Hans dan Miro, Dana dan Nomo juga adalah teman satu kampus. Mereka bekerja sambil kuliah, yang membuat mereka masih belum lulus. Enam tahun sudah mereka menuntut ilmu di jurusan ekonomi di salah satu Universitas swasta di Jakarta, dengan rentang waktu kuliah yang selama itu, harusnya mereka sudah bisa menjadi seorang pialang saham yang bekerja di bursa efek atau menjadi pengamat ekonomi yang biasa diundang televisi untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Sayangnya waktu selama itu mereka gunakan untuk mengulang mata kuliah pengantar ekonomi, akuntansi dan Bahasa Indonesia. Mereka lebih berkonsentrasi ke pekerjaannya sebagai additional player band dan ngamen di Mall, Café dan hajatan sunatan atau pernikahan.

Sehabis selesai ngeband biasanya mereka akan menghabiskan waktu di kos Hans sambil bermain playstation, menciptakan lagu atau hanya sekedar mengobrol.

“Lo gimana jadinya tentang tawaran jadi guru itu Mir?” Tanya Dana sambil mengikat rambut gondrongnya, bulu ketiak yang menyempil dari baju tak berlengannya tak kalah gondrong.

“Entahlah Dan, Gue nggak mau ngebahas soal itu, belum kepikiran. Sekarang gue cuma mau fokus ngeband sama kalian.” Kata Miro sambil memandangi sudut langit-langit kossan Hans yang penuh dengan sarang laba-laba.

Pertanyaan yang baru dilontarkan Dana, benar-benar menghentak Miro. Sudah beberapa minggu ini ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan bahwa nantinya ia akan menjadi seorang guru. Tiga bulan yang lalu ayahnya menawarkannya menjadi guru, Miro yang tidak begitu tertarik tidak terlalu menanggapi tawaran itu dengan serius. Ayahnya yang mengurus seluruh tetek bengek masalah administrasi hingga akhirnya Miro lulus di tahapan berkas administrasi. Selanjutnya Miro diundang untuk mengikuti test kompetensi dasar dan wawancara. Entah mimpi apa, Miro bisa dengan lancar mengerjakan soal-soal test, waktu itu ia merasa otaknya encer sesaat, seperti habis minum jamu buyung upik. Namun sayangnya setelah test, otaknya langsung membeku kembali. Dan seperti yang sudah diduga, ia lulus tahapan test tertulis. Kemudian saat test wawancara, tak ada hujan tak ada badai, Miro bisa dengan sangat lancar melewati test itu, selancar jalanan Jakarta saat hari raya Idul Fitri. Ia menjawab pertanyaan yang diajukan pewawancara dengan tenang dan pasti, memberikan solusi atas masalah pendidikan yang sedang dihadapi Indonesia, menjelaskan makna dari kalimat ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani dengan panjang lebar, dan menceritakan sejarah perjuangan Ki Hadjar Dewantara, Menteri Pendidikan Nasional pertama. Ia mempresentasikannya persis seperti kandidat calon presiden ketika diberi pertanyaan oleh panelis dalam acara debat capres. Belakangan diketahui bahwa ayahnya tak henti-hentinya berdoa untuk memohon kemudahan saat ia mengikuti setiap test. Setelah semua rangkaian test sudah dilewati, ia berhasil lulus. Tapi ada satu hal yang mengganjal, Kementerian Pendidikan dengan program barunya yang ingin menyetarakan kualitas pendidikan di seluruh pelosok negeri, menempatkannya jauh di Pulau Kalimantan sana. Ia menjadi galau tidak karuan.

Menjadi musisi adalah tujuan utamanya saat ini, sedangkan menjadi guru adalah bentuk apresiasinya atas upaya ayahnya yang sudah mengurus masalah tetek bengek dan senantiasa berdoa untuknya. Sering dalam lamunannya, ia membayangkan menjadi anak band yang manggung di depan ribuan orang, teriakan para penonton yang memanggil dan mengelu-elukan namanya, bergelimang harta dan dikelilingi Groupies, siapa yang tidak mau? Dibandingkan dengan menjadi seorang tenaga pengajar dengan gaji sedikit di sebuah tempat yang bahkan namanya belum pernah didengarnya seumur hidup, tentu pilihan menjadi Rockstar adalah keputusan yang lebih realistis.

“Nah kalo lo Hans, kenapa nggak jadi guru? Lo kan sarjana pendidikan juga? ” Dana beralih tanya ke Hans.

“ Kalo gue jadi guru, gue takut nilai sejarah anak murid gue merah semua.” Seloroh Hans

“ Tapi kalian kebayang nggak kalo si Nomo jadi guru? ” Tanya Dana

“ Mungkin macem Limbad kurang tidur. Sunyi, lesu sepanjang jam pelajaran.” Hans menimpali.

Nomo nyaris tidak bereaksi, ia hanya menengok sebentar ke arah Dana dengan tatapan datar lalu kembali bermain game di hanphone-nya. Tatapannya kurang lebih berarti : “Apa ada hal yang lebih bodoh dari yang kau katakan tadi?”

Disaat-saat ramai seperti itu, pikiran Miro mengawang ke atas melewati asbes kamar, mengankangi genteng kos Hans, terbang jauh menyeberangi laut Jawa dan masuk ke dalam rimba hutan yang sunyi dan gelap. Disana mungkin nanti Miro akan tinggal, jika nanti ia berubah pikiran untuk mengambil tawaran ayahnya yang sudah meluluskannya menjadi seorang guru di daerah terpencil. Meninggalkan segala zona nyaman yang mendekapnya, menanggalkan keinginan terbesarnya menjadi musisi.

 

 

Share via
Copy link