Nak, Dengarkan Ibu merupakan sebuah buku yang menceritakan pengalaman seorang ibu yang anaknya menjadi pecandu narkoba. Sejak awal mengetahui anaknya terjerumus ke dalam pengaruh buruk narkoba, ia berusaha untuk menerima dan menjalaninya dengan sabar dan optimis demi agar anaknya bisa kembali pulih. Meski luka, sedih, dan kecewa ia rasakan namun beliau berkeyakinan bahwa keterpulihan sang buah hati dari adiksi narkoba berkaitan erat dengan peran orang tua yang selalu hadir mencari jalan, mendampingi dan mendoakan.

Permasalahan yang terangkum di dalam buku Nak, Dengarkan Ibu karya Sri Hayuni adalah tentang goresan hati ibu seorang pecandu narkoba. Seorang anak yang masuk ke dalam pengaruh buruk narkoba hingga menjadi pecandu narkoba akan turut membawa orang tua atau keluarganya pada putaran permasalahan tersebut. Bagaimana tidak, ketika diketahui seorang anak terperangkap dalam jeratan narkoba, keluarga khususnya orang tua akan merasa sedih dan kecewa. Ketika diketahui anaknya telah menjadi pecandu, keluarga akan berjuang lama, banyak dan panjang untuk mendampingi dan mencari jalan keluar demi anaknya bisa terlepas dari adiksi. Ketika runtutan permasalahan yang dialami oleh pecandu semakin hari semakin bertambah maka peran keluarga sudah jelas sangat dibutuhkan.

Menganalisis setiap catatan yang terdapat dalam Buku Nak, Dengarkan Ibu mulai dari kesaksian ibu seorang pecandu narkoba, penjelasan mengenai adiksi sebagai penyakit di dalam keluarga, upaya untuk bangkit menyelamatkan pecandu hingga harapan orang tua terhadap anaknya yang menjadi korban adiksi terdapat satu kekuatan utama dan terbesar dalam menghadapi anggota keluarga yang terpapar narkoba adalah menerima dan melawan. Menerima dalam artian adalah kita menerima kenyataan bahwa narkoba memang telah masuk ke dalam keluarga kita. Berlari dari masalah tanpa adanya usaha untuk menghadapinya adalah suatu jalan yang tidak tepat. Melawan, keluarga tidak boleh kalah dengan narkoba. Narkoba harus dilawan dengan segala upaya yang kita bisa. Melawan dengan berbagai cara seperti mengetahui dan memahami apa itu narkoba dan dampak buruknya karena bagaimana mungkin seseorang dapat melawan suatu hal tanpa mengetahui apa dan siapa yang ia lawan. Melawan dengan tetap berdiri tegak tidak goyah untuk selalu berusaha dan berdoa dan berkomitmen “Kita tidak boleh kalah dengan narkoba sebelum kita melawannya.” Dan ketika seorang anak menjadi pecandu narkoba maka keluargalah yang paling utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai atau fungsi keluarga dalam penerimaan dan perlawanan terhadap adiksi yang menimpa.

Solusi dalam penanggulangan anggota keluarga yang terpapar narkoba akan selalu ada. Karena setiap permasalahan tentu ada solusinya. Untuk memperoleh solusi tersebut tentunya harus disertai dengan cara dan upaya. Adalah suatu upaya yang seharusnya kita lakukan bahwa mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Namun, jika permasalahan narkoba dimana ada anggota keluarga yang terpapar narkoba atau telah menjadi pecandu narkoba maka mengetahui akar penyebabnya menjadi hal yang harus diperhatikan. Siapa yang harus mengetahui? Tentu keluarga, orang terdekat dengan anak yang menjadi korban narkoba tersebut. Siapa yang harus melangkah di awal dalam penanggulangan pecandu narkoba? Kembali lagi kepada keluarga, sebagai orang terdekat yang memiliki ikatan darah dan tali cinta terkuat, terutama orangtua. Berdasarkan hasil analisis yang saya lakukan terhadap buku Nak, Dengarkan Ibu, ada satu hal yang saya garis bawahi dalam penanggulangan pecandu narkoba di lingkaran keluarga yaitu penerapan CINTA TEGAS.

Penerapan cinta tegas oleh keluarga adalah melalui penerapan kolaborasi dan hubungan yang seiring sejalan antara Ibu dan Ayah dan anggota keluarga yang lain dalam mengupayakan terlepasnya si pecandu dari adiksi narkoba. Satu hal juga yang harus diketahui oleh orang tua atau keluarga adalah tentang pemahaman adiksi narkoba. Orang tua atau keluarga yang hanya sekedar berkutat pada bagaimana anaknya mendapat pemulihan di tempat rehabilitasi semata tanpa dirinya terlibat tentang apa itu adiksi dan bagaimana menghadapi pecandu maka keterpulihan anak dari adiksi narkoba tidak akan berjalan dengan baik. Karena pada dasarnya, tempat rehabilitasi pecandu narkoba hanya sebuah jembatan untuk mengobati dan mengembalikan fungsi sosial pecandu narkoba, dan setelah pulang dari tempat rehabiltasi keberlanjutan pemulihan yang sebenarnya adalah di dalam rumah yautu melalui penguatan peran keluarga.  Dengan demikian, ketika seorang anak menjadi pecandu narkoba maka orang tua dan keluarga memiliki peran penting dalam penanggulangannya. Ini dilakukan agar cita-cita war on drugs dalam penanggulangan pecandu narkoba dapat tercapai, yaitu bukan semata tentang berorasi menyampaikan apa itu adiksi dan apa itu pecandu melainkan tentang bagaimana masyarakat mau dan semangat dalam memahami adiksi narkoba dan mampu melihat sosok pecandu narkoba dengan kacamata bijaksana tanpa penghakiman dan pendiskriminasian.

Share via
Copy link